Beranda > tulisan lepas > MODEL PEMBELAJARAN

MODEL PEMBELAJARAN

Oktober 23, 2009

Pada Kurikulum Berbasis Materi, pencapaian pembelajaran diukur: Sejauh mana materi telah diberikan pada siswa. Penilaian menggunakan Acuan Norma, hasil yang dicapai seorang siswa dibandingkan dengan jumlah siswa pada satu kelas.

Berbeda dengan Kurikulum Berbasis Materi maka pada Kurikulum Berbasis Kompetensi, pencapaian diukur pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual maupun klasikal. Penilaian menggunakan Acuan Kriteria. Karenanya CARA GURU MENGAJAR DAN CARA SISWA BELAJAR harus selaras dengan kompetensi yang ingin dicapai dalam KBK, Berikut beberapa model pembelajaran yang kiranya cocok untuk pelaksanaan pembelajaran (cara guru mengajar, cara murid belajar) dalam KBK.

A. Pembelajaran dengan Memanfaatkan Multi Kecerdasan

Berdasarkan penelitian bertahun-tahun, seorang pakar pendidikan, Howard Gardner menemukan kenyataan bahwa setiap orang paling tidak memiliki lebih dari satu kecerdasan. Menurutnya ada delapan kecerdasan, yaitu:

1. Kecerdasan Linguistik: Word Smart

Ciri-ciri:
 Kreatif dalam menulis
 Mengarang kisah khayal atau menuturkan lelucon dan cerita
 Sangat hafal nama, tempat, tanggal, atau hal-hal kecil
 Menikmati waktu senggang dengan membaca buku
 Mengeja kata-kata dengan tepat dan mudah
 Menyukai pantun lucu dan permainan kata
 Suka mengisi teka-teki silang atau melakukan permainan seperti Scrabblle
 Menikmati mendengarkan kata-kata lisan (cerita, program radio, pembacaan buku, dan sebagainya)
 Unggul dalam pelajaran sekolah yang melibatkan kemampuan membaca dan/atau menulis
Cara Mudah Dalam Belajar:
 Guru bercerita
 Guru mengajak bermain permainan ingatan tentang nama dan tempat
 Lakukan permainan kosa kata369625526*+-9+8
 Mengisi teka teki silang
 Padukan menulis dan membaca dengan bidang lain
 Gunakan pengolah kata pada komputer
2. Kecerdasan Logis-Matematis: Number Smart
Ciri-ciri:
 Menghitung problem aritmetika dengan cepat di luar kepala
 Menikmati menggunakan bahasa komputer atau program software logika
 Mengajukan pertanyaan seperti ”Dimana akhir alam semesta” atau “Mengapa langit biru?”
 Ahli bermain catur, dadu atau permainan strategi lain
 Menjelaskan masalah secara logis
 Merancang eksperimen untuk menguji hal-hal yang tidak dimengerti
 Menghabiskan banyak waktu memainkan teka-teki logika seperti kubus atau permainan logika lainnya
 Suka menyusun dalam kategori atau hierarki
 Mudah memahami sebab dan akibat
 Menikmati pelajaran matematika dan IPA dan berprestasi tinggi
Cara Mudah Dalam Belajar:
 Rangsang dengan pemecahan masalah
 Lakukan permainan berhitung dengan komputer
 Analisis dan tafsirkan data
 Gunakan logika
 Dorong kekuatan diri siswa
 Beri eksperimen praktis
 Gunakan prediksi (perkiraan)
 Organisasikan matematika dengan pelajaran lain
 Dorong siswa untuk menyelesaikan segala sesuatu dengan bertahap
 Guru memulai pengajaran dengan memberikan konsep secara makro (menyeluruh) kemudian secara bertahap menuju ke konsep mikro (detail)
 Gunakan komputer untuk lembar kerja perhitungan
3. Kecerdasan Spasial: Picture Smart
Ciri-ciri:
 Menonjol dalam kelas seni atau aktifitas seni yang ada di sekolah
 Memberikan gambaran visual yang jelas ketika sedang memikirkan sesuatu
 Mudah membaca peta, grafik dan diagram
 Menggambar sosok orang atau benda yang persis aslinya
 Senang melihat filem, slide atau foto
 Menikmati pemecahan teka-teki jigshaw, maze atau kegiatan visual lainnya
 Sering melamun
 Membangun konstruksi tiga dimensi yang menarik, contoh bangunan Lego ( Bangunan Lego adalah kotak-kotak kayu yang dapat disusun menjadi berbagai bentuk bangunan atau lainnya. Lego adalah merk dagang)
 Mencoret-coret di atas secarik kertas atau buku tugas sekolah
 Lebih banyak memahami lewat gambar daripada lewat kata-kata ketika sedang membaca.

Cara Mudah Dalam Belajar:
 Gunakan gambar untuk belajar
 Gunakan simbol-simbol
 Padukan dan organisasikan seni dengan pelajaran lainnya
 Gunakan peta pikiran
 Gunakan gambar diagram, peta
 Tempelkan gambar/poster yang merangsang motivasi belajar dan ingatan siswa
 Gunakan spidol berwarna secara bergantian ketika menulis di white board
 Gunakan grafik komputer
 Bagi siswa dalam kelompok belajar

4. Kecerdasan Kinestetik-Jasmani: Body Smart
Ciri-ciri:
 Berprestasi dalam olahraga kompetitif di sekolah atau lingkungan pemukiman
 Bergerak-gerak ketika sedang duduk
 Terlibat dalam kegiatan fisik seperti berenang, bersepeda, hiking atau bermain skateboard.
 Perlu menyentuh sesuatu yang ingin dipelajari
 Menikmati melompat, lari, gulat, atau kegiatan serupa (jika berusia lebih tua mungkin menunjukkan kecenderungan ini secara lebih tersamar)
 Memperlihatkan ketrampilan dalam bidang kerajinan tangan, kerajinan kayu, menjahit, mengukir atau memahat
 Pandai menirukan gerakan, kebiasaan, atau prilaku orang lain
 Sering “merasakan” jawaban masalah yang dihadapi di rumah atau di sekolah
 Menikmati bekerja dengan tanah liat, melukis dan kegiatan “kotor” lainnya
 Sangat suka membongkar berbagai benda dan kemudian menyusunnya lagi
Cara Mudah Dalam Belajar:
 Gunakan latihan fisik dengan siswa sebagai objek
 Gunakan tarian sebagai media belajar
 Gunakan bahasa tubuh/gerak dalam belajar-mengajar
 Dramatisasikan proses belajar
 Gunakan manipulasi gerak untuk pelajaran IPA dan MATEMATIKA
 Sekali waktu rubah susunan bangku dan beri kesempatan relaksasi pada siswa
 Kondisikan mental siswa melalui kegiatan olahraga
 Gunakan alat peraga yang melibatkan aktifitas fisik siswa
 Gunakan teknik bela diri untuk pemusatan pikiran
 Sekali waktu ajak siswa belajar di luar kelas/alam terbuka
 Gunakan drama, permainan peran untuk lebih memudahkan siswa memahami materi pelajaran
 Gunakan jentikan jari

5. Kecerdasan Musikal: Musical Smart

Ciri-ciri:
 Memainkan alat musik di rumah atau di sekolah, sebagai anggota band atau orkes
 Ingat melodi lagu
 Berprestasi sangat bagus di kelas musik yang ada di sekolah
 Lebih bisa belajar dengan iringan musik
 Mengoleksi Compact Disc atau kaset
 Bernyanyi untuk diri sendiri atau untuk orang lain
 Bisa mengikuti irama musik
 Mempunyai suara yang bagus untuk menyanyi
 Peka terhadap suara-suara di lingkungannya
 Memberi reaksi yang kuat terhadap berbagai jenis musik

Cara Mudah Dalam Belajar:
 Mainkan alat musik
 Gunakan konser aktif dan pasif dalam belajar (sebaiknya pada saat pelajaran berlangsung musik mozart dimainkan dengan volume sedang)
 Padukan musik dengan pelajaran lain
 Mengarang musik di komputer

6. Kecerdasan Antarpribadi/Kecerdasan Sosial: People Smart
Ciri-ciri:
 Mempunyai banyak teman
 Banyak bersosialisasi di sekolah atau di lingkungan tempat tinggal
 Tampak sangat mengenal lingkungannya
 Terlibat dalam kegiatan kelompok di luar jam sekolah
 Berperan sebagai “penengah keluarga” ketika terjadi pertikaian
 Menikmati permainan kelompok
 Berempati besar terhadap perasaan orang lain
 Dicari sebagai “penasehat” atau “pemecah masalah” oleh teman-temannya
 Menikmati mengajari orang lain
 Tampak mempunyai bakat memimpin

Cara Mudah Dalam Belajar:
 Dorong siswa untuk melakukan aktifitas belajar bersama-sama
 Beri banyak waktu bagi siswa untuk bersosialisasi
 Gunakan aktivitas belajar “pasangan dan berbagi”
 Jadikan proses belajar menjadi menyenangkan
 Padukan kecerdasan sosial dengan semua mata pelajaran
 Dorong siswa untuk mengajari temannya sendiri
 Gunakan teori Sebab-Akibat

7. Kecerdasan Intrapribadi/Kecerdasan Intuitif: Self Smart
Ciri-ciri:
 Memperlihatkan sikap independen atau kemauan yang kuat
 Bersikap realistis terhadap kekuatan dan kelemahannya
 Memberi reaksi keras ketika membahas topik-topik kontroversial
 Bekerja dan belajar dengan baik seorang diri
 Memiliki rasa percaya diri yang tinggi
 Mempunyai pandangan hidup yang lain dari pandangan umum
 Belajar dari kesalahan masa lalu
 Dengan tepat mengekspresikan perasaannya
 Terarah pada pencapaian tujuan
 Terlibat dalam hobi atau proyek yang dikerjakan sendiri

Cara Mudah Dalam Belajar:
 Lakukan pembicaraan “dari hati ke hati”
 Dorong siswa melakukan pengembangan diri untuk medobrak rintangan belajar
 Lakukan tanya jawab
 Beri waktu untuk refleksi dalam hati
 Dorong siswa untuk studi mandiri
 Beri kebebasan untuk berbeda dalam kelompok
 Dorong siswa untuk mendengarkan intusinya
 Dorong siswa untuk membuat catatan harian
 Ajarkan siswa nilai-nilai agama untuk penguatan diri.

8. Kecerdasan Naturalis: Nature Smart
Ciri-ciri:
 Akrab dengan hewan peliharaan
 Menikmati berjalan-jalan di alam terbuka, kebun binatang atau musium sejarah alam
 Menunjukkan kepekaan terhadap bentuk-bentuk alam (gunung, awan, atau, jika berada di lingkungan perkotaan mereka memperlihatkan kemampuan ini dalam kepekaan terhadap “bentuk-bentuk” budaya populer seperti misalnya sepatu kanvas, sampul CD, model mobil, dan sebagainya)
 Suka berkebun atau berada dekat kebun
 Menghabiskan waktu dekat akuarium, terarium atau sistem kehidupan alam lain
 Memperlihatkan kesadaran ekologis (misalnya melalui daur ulang, pelayanan masyarakat, dan sebagainya)
 Yakin bahwa binatang mempunyai hak sendiri
 Mencatat fenomena alam yang melibatkan hewan, tanaman, dan hal-hal sejenis (misalnya mempunyai foto, buku harian, gambar, koleksi dan sebagainya)
 Membawa pulang serangga, bunga, daun atau benda-benda alam dan memperlihatkannya pada keluarga
 Memperlihatkan pemahaman yang mendalam di sekolah dalam topik-topik yang melibatkan sistem kehidupan (misalnya topik biologi dalam mata pelajaran IPA, topik lingkungan hidup dalam mata pelajaran IPA dan sebagainya)

Cara Mudah Dalam Belajar:
Siswa dengan kecerdasan naturalis dapat belajar dengan cara belajar siswa yang memiliki kecerdasan lainnya. Harap diingat setiap siswa memiliki lebih dari satu kecerdasan, karenanya mengelompokkan siswa berdasarkan satu kecerdasan tidak diharapkan.

Contoh Penggunaan Multi Kecerdasan dalam Pelaksanaan Proses Pembelajaran Pada Tiap Jenis dan Jenjang Pendidikan

Tingkat Kelas : IV Sekolah Dasar
Mata Pelajaran : IPS
Topik : Pengetahuan Peta Indonesia

 Linguistik: menggunakan peta Indonesia, minta siswa membaca nama-nama pulau di peta dan menghafalkannya

 Logis-matematis: minta siswa mengurutkan pulau-pulau yang ada berdasarkan ukuran luas, jumlah penduduk, luas hutan, hasil tambang dan lain-lain dalam sebuah grafik ciptaan siswa sendiri

 Spasial: minta siswa membuat jigzaw puzzle peta Indonesia yang menggambarkan seluruh pulau yang tergambar di peta. Ketika menyusun kembali minta siswa untuk menyebutkan nama-nama masing-masing pulau yang ada pada peta

 Kinestetik-jasmani: menggunakan bola dunia plastik berlabelkan nama-nama pulau di Indonesia yang dikelilingi laut, lemparkan bola ini kepada siswa ketika siswa menangkapnya dia harus menyebutkan nama pulau atau laut yang tersentuh dengan ibu jarinya

 Musik: kumpulkan bunyi musik khas dari masing-masing daerah di nusantara, mainkan contoh musik secara acak, minta siswa menunjukkan di peta, lokasi asal musik tersebut.
 Antarpribadi: bersama siswa, cari orang-orang yang pernah mengunjungi beberapa wilayah di Indonesia, ajak mereka membahas pengalamannya itu.

 Intrapribadi: setelah siswa memperoleh informasi tentang pengalaman seseorang berkunjung beberapa wilayah Indonesia, ajak siswa untuk membuat daftar pulau berdasarkan urutan dari apa yang dia senangi dari pulau tersebut dan biarkan dia menjelaskan alasannya
 Naturalis: Gunakan berbagai hewan atau tanaman khas yang menjadi ciri pulau-pulau di Indonesia

Sumber: 1. Setiap Anak Cerdas – Thomas Amstrong, Gramedia – Jakarta, 2003
2. Revolusi Cara Belajar – Gordon Dryden, Kaifa – Bandung, 2001

B. Pembelajaran yang Menyenangkan

Bobbi Deporter seorang ibu guru dari Amerika Serikat menggambarkan suasana belajar yang menyenangkan, penuh dengan kegembiraan, kegairahan, antusiasme siswa meraih pengetahuan lewat bukunya yang berjudul Quantum Teaching!
Bobbi Deporter mendefinisikan Quantum sebagai: Interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya. Dengan demikian Quantum Teaching (QT) adalah pengubahan bermacam-macam interaksi yang ada di dalam dan di sekitar momen belajar. (dalam konteks islami quantum adalah: bagaimana “menyerap cahaya Allah” – QS:An Nur:35 – “memasukkannya ke dalam qalbu dan mentranfernya kembali ke qalbu para siswa”-achjar.)

Bobbi Deporter, menamai Kerangka Belajar dan Mengajar Interaktif lewat QT dengan: TANDUR, akronim dari:

TUMBUHKAN
Tumbuhkan minat belajar siswa dengan memuaskan rasa ingin tahu siswa dalam bentuk: Apakah Manfaatnya BAgiKu (AMBAK) jika aku mengikuti topik pelajaran ini dengan guru anu?
Tumbuhkan suasana yang menyenangkan di hati siswa, dalam suasana relaks, tumbuhkan interaksi dengan siswa, masuklah ke alam pikiran mereka dan bawalah alam pikiran mereka ke alam pikiran Anda, yakinkan siswa mengapa harus mempelajari ini dan itu, belajar adalah suatu kebutuhan siswa, bukan suatu keharusan.
Tumbuhkan NIAT YANG KUAT pada diri Anda bahwa Anda akan menjadi guru dan pendidik yang hebat. Tumbuhkan strategi mengajar dengan memanfaatkan seluruh potensi yang ada di dalam kelas, di luar kelas, di dalam sekolah dan di luar sekolah.

ALAMI
Unsur ini mendorong hasrat alami otak untuk “menjelajah”. Cara apa yang terbaik agar siswa memahami informasi? Kegiatan apa yang dapat diberikan agar pengetahuan dan ketrampilan yang sudah dimiliki siswa, misalnya, dapat membuktikan bahwa kuat lemahnya arus listrik yang mengalir pada penghantar dipengaruhi oleh besarnya perlawanan (resistance) dari penghantar, luas penampang penghantar dan panjang penghantar?, bandingkan dengan keausan ban mobil jika dikaitkan dengan panjang jalan dan kondisi jalan raya. Atau bawa mereka ke pantai, genggam pasir kwarsa yang ada di pantai, ajukan pertanyaan:”Mengapa pasir ini ada disini, darimana sesungguhnya pasir ini berasal!” Seorang anak balita menyentuh ujung obat nyamuk yang terbakar, “Aww” dia menjerit. Tercipta suatu momen belajar dari abstrak:”Panas – Jangan Sentuh, menjadi kongkret.

Namai
Setelah siswa melalui pengalaman belajar pada topik tertentu, ajak mereka untuk menulis di kertas, menamai apa saja yang telah mereka peroleh, apakah itu informasi, rumus, pemikiran, tempat dan sebagainya, ajak mereka untuk menempelkan nama-nama tersebut di dinding kelas dan dinding kamar tidurnya.

Demontrasikan
Ingatkan Anda ketika pertama kali mengenderai sepeda? Anda mencoba dan jatuh (ini pengalaman). Anda coba lagi, berhenti, bertanya, barangkali Anda dapat informasi atau latihan dari saudara, kakak, atau teman (penamaan). Kemudian Anda benar-benar mengaitkan pengalaman dan nama dengan cara menunjukkan dan melakukannya!
Melalui pengalaman belajar siswa mengerti dan mengetahui bahwa dia memiliki kemampuan (kompetensi) dan informasi (nama) yang cukup, sudah saatnya dia mendemontrasikan dihadapan guru, teman, maupun saudara-saudaranya.
Ulangi
Pengulangan memperkuat koneksi saraf dan menumbuhkan rasa “Aku tahu bahwa aku tahu ini!” Pengulangan sebaiknya dilakukan dengan menggunakan konsep multi kecerdasan (lihat uraian sebelum ini).

Rayakan
Perayaan adalah ekspresi atau kelompok seseorang yang telah berhasil mengerjakan sesuatu tugas atau kewajiban dengan baik. Umat Islam merayakan Iedul Fitri (kembali suci) karena telah berhasil mengerjakan ibadah puasa di bulan Ramadhan dengan baik. Jadi, jika siswa sudah mengerjakan tugas dan kewajibannya dengan baik layak untuk dirayakan lewat: bertepuk tangan, jentik jari, atau bernyanyi bersama-sama, atau secara bersama-sama mengucapkan:”AKU BERHASIL!”
Desain Lingkungan Belajar

Suasana Kelas
Bayangkan situasi ini, usai jam kantor Anda pulang ke rumah, diperjalanan Anda mengalami kendala berupa jalan yang macet, matahari bersinar terik. Sampai di rumah Anda melihat ruang tamu yang berantakan, meja tamu yang belum sempat dirapikan, piring kotor yang belum sempat dicuci, vas bunga yang berisi anggrek segar terlantar di pojok ruang, koran-koran berserakan….

Ketika Anisa mendekati ruangan kelas, sayup tersengar suara musik yang riang gembira. Dengan perasaan ringan Anisa mengayunkan kakinya, masuk ke dalam kelas, matanya menangkap kertas warna-warni yang ditempel pada dinding kelas yang dicat sesuai dengan warna kesukaannya dan kesukaan teman-teman sekelasnya, kelas yang bangkunya bisa dipindah-pindah untuk menyegarkan suasana. Anisa merasa masuk ke “ruang keluarga” dimana dia bertemu dengan “banyak saudara” dan ibu/bapak guru yang menjadi “ibu dan bapaknya” selama dia di sekolah, Dia……

Apa yang kita peroleh dari dua metafora di atas? suasana lingkungan yang berbanding lurus dengan suasana hati. Demikian halnya lingkungan kelas berbanding lurus dengan suasana hati siswa penghuni kelas tersebut.
Sangat banyak sebenarnya siswa kita yang merasa kelas tempatnya belajar adalah ruang segi empat yang sumpek, posisi bangku murid dan bangku guru yang monoton (sehingga terkesan guru adalah “raja kecil” yang duduk di singasana, sedang dihadapi oleh siswa yang menjadi “kawula-nya”), dengan dinding yang dicat dengan warna yang suram dan barangkali hanya dicat setahun sekali. Kelas seperti ini memberi pesan yang jelas bagi siswa bahwa,”belajar itu melelahkan dan membosankan!” serta,”Kelas itu penjara lho?!”
Aroma

“Gua enggak betah lama di kelas, mana sumpek!, panas!, bau lagi!” Barangkali inilah kata-kata yang diungkapkan siswa ketika bercerita kepada teman dekatnya perihal susana kelasnya. Cukup kuat kaitan antara kelenjar pencium dengan otak otonomi. Manusia dapat meningkatkan kemampuan berpikir mereka secara kreatif sebanyak 30% saat diberi wewangian bunga tertentu (Hirsch, 1993). Daerah penciuman merupakan reseptor bagi endorfin yang menyuruh tanggapan tubuh menjadi merasa senang dan sejahtera.
Apa artinya bagi kelas Anda? Sedikit penyemprotan aroma berikut akan meningkatkan kewaspadaan mental: mint, kemangi, jeruk, kayu manis dan mawar memberikan ketengan dan relaksasi (Lavabre, 1990)

Pengaturan Bangku

Susunan bangku di dalam kelas memainkan peranan penting bagi tumbuhnya dinamika kelas dan komunitas kelas. Untuk presentasi siswa, guru memberikan penjelasan, pemutaran video dan sejenisnya, bangku dan siswa pada posisi menghadap ke depan seluruhnya. Untuk kerja kelompok bangku diputar saling berhadapan. Berikut beberapa pilihan susunan bangku.

 Setengah lingkaran untuk diskusi kelompok besar yang dipimpin oleh seorang fasilitator, yang menuliskan gagasannya pada kertas tulis, witheboard dan papan tulis.
 Bangku rapat ke dinding untuk membentuk ruang kosong di tengah bagi kelompok kecil, atau diskusi melingkar dengan lesehan di lantai.

Gambar dan Poster

Sepertinya tidak ada orang Indonesia yang tidak mengenal “Pepsodent” sebagai pasta gigi, anak usia SD akan lebih mengerti kalau disuruh ibunya membeli Pepsodent ketimbang pasta gigi, begitulah adanya. Namun demikian tetap saja raksasa Unilever mengiklankan Pepsodent-nya di TV. Setiap hari!
Ini adalah affirmasi, penguatan! Bobbi Deporter lewat QT-nya menulis: Otak Anda berbicara kepada diri sendiri melalui citra-citra asosiatif. Komunikasi di dalam otak ini dicirikan dengan bahasa metaforis-simbolis. Pernahkah Anda perhatikan bahwa di dalam otak Anda bisa terdapat beberapa pikiran sekaligus? Dan setiap pemikiran tampaknya dikelilingi terlalu banyak asosiasi? Kemampuan ini dimungkinkan oleh sifat metaforis-simbolis otak. Kemitraan mata dan otak! Kemana arah mata seseorang ketika dia sedang mengingat sesuatu, ke atas!
Anda pasti mudah memanfaatkan kemampuan siswa untuk secara tidak sadar menyerap informasi melalui kemitraan otak-mata, demikian Bobi.
Ajak siswa membuat poster ikon/simbol di atas kertas karton ukuran 40 x 30 cm, berisikan kata-kata penguat, misal, AKU TAHU AKU MAU AKU BISA, atau berisikan rumus-rumus, konsep-konsep, kata-kata yang membangkitkan rasa percaya diri (karena percaya pada kekuasaan Allah), keimanan, ketaqwaan, akhlaq mulia, dan/atau puisi.
Bagi siswa di dalam kelas dalam beberapa kelompok untuk tugas membuat poster secara bergantian, dorong kelompok tersebut menamakan kelompoknya dengan nama-nama, yang membangkitkan niat kuat dan semangat ingin maju.
Seminggu sekali poster diganti dengan poster baru yang sesuai dengan topik-topik baru yang akan diajarkan.

Kesepakatan

Sekolah masa lalu adalah sekolah yang segalanya diatur oleh satu pusat kekuasaan yang “tak tersentuh” oleh Kepala Sekolah. Kebijakan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) yang diluncurkan Depdiknas pada tahun 2002 memungkinkan sekolah melakukan improvisasi, melakukan apa saja yang baik dan bermakna untuk peningkatan mutu dan relevansi tamatan serta kemajuan sekolah yang dipimpinnya.
Dalam konteks MPMBS dikenal masyarakat kelas, ada guru dan ada siswa. Sayangnya sampai sekarang masyarakat kelas ini belum membangun sinergi, kesepakatan apa yang dapat dilakukan oleh kedua pihak (guru dan murid) agar proses pembelajaran dapat berlangsung sesuai dengan “Tugas Pokok dan Fungsi” masing-masing. Guru belum pernah bertanya, cara belajar seperti apa yang diinginkan oleh siswa.
Seorang guru SMK 56 Jakarta mencoba ini, pada hari pertama masuk kelas di tahun ajaran baru dia meminta siswa untuk merombak susunan meja menjadi seperti susunan meja ruang rapat.
Rapat! Itulah yang diminta oleh guru kepada para siswa. Selama 2 x 60 menit siswa rapat membahas topik: Cara belajar seperti apa yang mereka inginkan dari pak guru. Ketua Murid bertindak sebagai ketua rapat, sekretaris kelas sebagai moderator, seorang siswa lain sebagai notulen. Selama 2 x 60 menit itu pak guru berada di luar kelas. Hasilnya adalah sebagaimana berikut ini.

• Dalam mengajar guru jangan terlalu banyak memberi catatan
• Master copi materi pendidikan dan pelatihan (diklat) yang akan diberikan sudah harus diberikan kepada sekretaris kelas seminggu sebelum pelatihan dimulai agar dapat diperbanyak oleh sekretaris kelas
• Disela-sela pelaksanaan diklat siswa mendapat kesempatan melakukan relaksasi
• Guru tidak boleh melakukan hukuman yang bersifat fisik, hukuman harus dapat memberikan kegembiraan pada siswa
• Karena rumah siswa umumnya jauh dari sekolah, jika ada siswa yang ingin sarapan pagi guru dapat memberikan izin keluar kelas, ke kantin. Waktu yang dipakai siswa mulai dari keluar kelas – kembali ke dalam kelas tidak boleh lebih dari sepuluh menit, jika melanggar diberi sanksi: Melakukan sesuatu di depan kelas sehingga seluruh siswa tertawa.
• Guru dan murid harus saling jujur dan terbuka
• Dalam pelaksanaan diklat, siswa yang belum mencapai kompetensi yang dipersyaratkan wajib mengulangi pekerjaannya

KESEPAKATAN! Guru dan murid sepakat melaksanakannya. Hasilnya! menakjubkan, siswa merasa betah di kelas, antusias dalam belajar, prestasi belajar meningkat (karena siswa memahami bahwa belajar bukan suatu keharusan, melainkan suatu kebutuhan) dan berusaha untuk tidak melakukan kesalahan, karena ternyata sulit melakukan sesuatu di depan kelas sehingga semua siswa tertawa!
Setelah mengikuti pelatihan Quantum Teaching di Hotel Pandeglang Raya yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Prop.Banten pada tahun 2003, guru SMU Negeri 1 Leuwidamar Kabupaten Lebak – Banten berkata, “Kami para guru membangun banyak kesepakatan dengan siswa, hasilnya: Dulu jika jarum jam sudah menunjukkan pukul 11.30 siswa sudah minta pulang, sekarang pukul 12.00 baru mau pulang, dan ada gejala mereka minta pulang pada pukul 12.30.”
SMU 1 Kopo – Cikande, Kab. Serang membangun kesepakatan dengan siswa untuk warna dinding bagian dalam kelas. Hasilnya dinding bagian dalam kelas-kelas di SMA ini beraneka warna sesuai dengan warna yang disukai siswa, hasil lainnya, siswa lebih bergairah belajar, dinding kelas selalu bersih dari corat coret. Para guru SMK 1 Cilegon bersepakat menjauhi hukuman yang bersifat fisik bagi siswa.

C. Pembelajaran Konteks

Pendekatan pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.
Pendekatan pembelajaran kontekstual mendasarkan diri pada kecenderungan belajar sebagai berikut:

1. Proses Belajar

 Belajar tidak hanya sekedar menghafal, siswa mengkonstruksikan atau menyusun pengetahuan di benaknya sendiri.
 Anak belajar dari mengalami. Anak mencatat sendiri pola-pola bermakna dari pengetahuan baru, dan bukan diberi begitu saja oleh guru.
 Para ahli sepakat bahwa pengetahuan yang dimiliki seseorang itu terorganisasi dan mencerminkan pemahaman yang mendalam tentang suatu persoalan (subject matter)
 Pengetahuan tidak dapat dipisah-pisahkan menjadi fakta-fakta atau proposisi yang terpisah tetapi mencerminkan ketrampilan yang dapat diterapkan.
 Manusia mempunyai tingkatan yang berbeda dalam menyikapi suatu yang baru
 Siswa perlu dibiasakan memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide
 Proses belajar dapat mengubah struktur otak. Perubahan struktur otak itu berjalan terus seiring dengan perkembangan organisasi pengetahuan dan keterampilan seseorang. Untuk itu perlu dipahami, strategi belajar yang salah dan terus-menerus dipajankan akan mempengaruhi struktur otak, yang pada akhirnya mempengaruhi cara seseorang berperilaku.

2. Transfer Belajar

 Siswa belajar dari mengalami sendiri, bukan dari ‘pemberian orang lain’
 Keterampilan dan pengetahuan itu diperluas dari konteks yang terbatas (sempit), sedikit-demi sedikit.
 Penting bagi siswa tahu ‘untuk apa’ ia belajar, dan bagaimana’ ia menggunakan pengetahuan dan keterampilan itu.

3. Siswa Sebagai Pembelajar

 Manusia mempunyai kecenderungan untuk belajar dalam bidang tertentu, dan seorang anak mempunyai kecenderungan untuk belajar dengan cepat hal-hal baru.
 Strategi belajar itu penting. Anak dengan mudah mempelajari sesuatu yang baru. Akan tetapi, untuk hal-hal yang sulit, strategi belajar amat penting.
 Peran orang dewasa (guru) membantu menghubungkan antara ‘yang baru’ dan yang sudah diketahui.
 Tugas guru memfasilitasi: agar informasi baru bermakna, memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan dan menerapkan ide mereka sendiri, dan menyadarkan siswa untuk menerapkan strategi mereka sendiri.

4. Pentingnya Lingkungan Belajar

 Belajar efektif dimulai dari lingkungan belajar yang berpusat pada siswa. Dari “guru akting di depan kelas, siswa menonton” ke “siswa akting bekerja dan berkarya, guru mengarahkan”.
 Pengajaran harus berpusat pada ‘bagaimana cara’ siswa menggunakan pengetahuan baru mereka. Strategi belajar lebih dipentingkan dibandingkan hasilnya.
 Umpan balik amat penting bagi siswa, yang berasal dari proses penilaian (assessment) yang benar.
 Menumbuhkan komunitas belajar dalam bentuk kerja kelompok itu penting.

5. Lima Elemen Penting Dalam CTL

Menurut Zahorik (1995:14-22) ada lima elemen penting yang harus diperhatikan dalam praktek pembelajaran kontekstual.

1) Pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activating knowledge)
2) Perolehan pengetahuan baru (acquiring knowledge) dengan cara mempelajari secara keseluruhan dulu, kemudian memperhatikan detailnya
3) Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge), yaitu dengan cara menyusun (1) konsep sementara (hipotesis), (2) melakukan sharing (berbagi) dengan orang lain agar mendapat tanggapan/validasi dan atas dasar tanggapan itu (3) konsep tersebut direvisi dan dikembangkan
4) Mempraktekkan pengetahuan dan pengalaman tersebut (applying knowledge)
5) Melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi pengembangan pengetahuan tersebut.

1. Penerapan Pendekatan Kontekstual di kelas

Pendekatan CTL memiliki tujuh komponen utama, yaitu konstruktivisme (Contructivism), menemukan (Inquiry) bertanya (Questioning), masyarakar-belajar (Learning Community), permodelan (Modeling), refleksi (Reflection) dan penilaian yang sebenarnya (Authentic Assesment). Sebuah kelas dikatakan menggunakan pendekatan CTL jika menerapkan ketujuh komponen tersebut dalam pembelajarannya. Dan, untuk melaksanakan hal itu tidak sulit! CTL dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, dan kelas yang bagaimanapun keadaannya.
Penerapan CTL dalam kelas cukup mudah. Secara garis besar langkahnya adalah sebagai berikut.

(1) Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan barunya!
(2) Lakukan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik!
(3) Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya!
(4) Ciptakan masyarakat-belajar (belajar dalam kelompok-kelompok)
(5) Hadirkan ‘model’ sebagai contoh pembicaraan
(6) Lakukan refleksi di akhir pertemuan
(7) Lakukan penilaian dengan berbagai cara.

Langkah-langkah Kegiatan Menemukan (Inkuiri)

1. Merumuskan masalah (dalam mata pelajaran apapun)
Bagaimana silsilah raja-raja Majapahit? (sejarah).
Bagaimana cara melukiskan suasana menikmati ikan bakar dipantai Anyer? (bahasa Indonesia).
Ada berapa jenis tumbuhan menurut bijinya? (biologi).
Kota mana saja yang termasuk kota besar di Indonesia (geografi).

2. Mengamati atau melakukan observasi
 Membaca buku atau sumber lain untuk mendapatkan informasi pendukung.
 Mengamati dan mengumpulkan data sebanyak-banyaknya dari sumber atau objek yang diamati.

3. Menganalisis dan menyajikan hasil dalam tulisan, gambar, laporan, bagan, tabel dan karya lainnya
 Siswa membuat peta kota-kota besar sendiri.
 Siswa membuat paragraf deskripsi sendiri.
 Siswa membuat bagan silsilah raja-raja Majapahit sendiri.
 Siswa membuat penggolongan tumbuh-tumbuhan sendiri.
 Siswa membuat usulan atau essai kepada pemerintah tentang berbagai masalah di daerahnya sendiri.
 Dan seterusnya.

4. Mengkomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada pembaca, teman sekelas, guru, atau audien lainnya.
 Karya siswa disampaikan kepada teman sekelas atau kepada orang banyak untuk mendapatkan masukan.
 Bertanya jawab dengan teman.
 Memunculkan ide-ide baru.
 Melakukan refleksi
 Menempelkan gambar, karya tulis, peta, dan sejenisnya di dinding sekolah, majalah dinding, majalah sekolah dlsb.

Sumber: 1. Quantum Teaching/Learning – Bobbi De Porter, Kaifa – Bandung, 2000
2. Setiap Anak Cerdas – Thomas Amstrong, Gramedia – Jakarta, 2003
3. Revolusi Cara Belajar – Gordon Dryden, Kaifa – Bandung, 2001
4. Pendekatan Kontekstual – Depdiknas, Dit PLP, 2002.

About these ads
Kategori:tulisan lepas
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 31 pengikut lainnya.