Beranda > Pendidikan, tulisan lepas > Sertifikasi Guru, Harapan GTT

Sertifikasi Guru, Harapan GTT

April 24, 2010

Sertifikasi Guru adalah harapan satu-satunya bagi guru GTT, honorer dan guru swasta lainnya. Karena tunjangan ini adalah sebagai satu-satunya kebijakan yang diibaratkan sebagai darah segar yang mengairi tubuh kuru, wajah tirus dengna beban seabrek. Lain halnya dengan para guru negeri (PNS) tunjangan sertifikasi seperti kejatuhan duren di malam hari yang tidak terduga. ironis memang, gaji PNS sudah cukup banyak kemudian ditambah dengan tunajngan itu, wuihhh tambah banyak sob. Tapi dibanding dengna guru GTT, honorer dna guru swasta??? adoh banget… kesejahteraaanya, padahal tugasnya sama, mencerdaskan anak bangsa.

Hal itu juga menjadi perbincangan ketika para guru GTT, guru swasta dianak tirikan. Pasalnya pengangkatan mereka sebagai guru tetap dan PNS jauh sekali frekuensinya. Dengan alas an keterbatasa dana Pemerintah mengesampingkan kebutuhan setiap sekolahan/penyelenggara pendidikan yang ternyata dilapangan sangat amat membutuhkan banyak guru. Artinya di sekolahan/satuan pendidikan di daerah masih banyak yang kekurangan guru. Hal itu tentu di Bantu dengan adanya guru GTT dan honorer. Apa jadinya jika satuan pendidikan ini tidka ada guru GTT/honorer, pasti yang terjadi tidak efektifnya proses belajar mengajar ini. Dengan melihat kenyataan itu, guru GTT/honorer tentu harusnya mendapat perhatian lebih dari Pemerintah. Tunjangan fungsional yang selama ini telah di kucurkan hanya 250rb per bulan. Belum lagi ada potongannya. Ironis, departemen pendidikan dan agama yang membawahi SD, SMP, SMA, dan MI, MTs, dan MA pun juga ikut-ikutan dalam hal makar ini, astagfirulloh…

Tunjangan tersebut tentu saja sangat amat kecil disbanding dengan kebutuhan hidup seorang manusia beradab, jika setiap manusia diberi tunjangan segitu, yang namnya profesionalitas itu omong kosong. Sedangkan satuan pendidikan juga terbentur dengan peraturan pemerintah (seperti SD, MI, SMP, MTs) yang mendapatkan dana BOS dna satuan pendidikan dilarang mengambil dana dari masyarakat. Trus logikanya, dari mana anggaran belanja untuk menggaji guru-guru tesebut?

Tunjangan sertifikasi adalah jalan surga bagi para pejuang dan pahlawan pendidikan ini. Tidak ada kata lain, hingga apapun ingin ditempuh olehnya, karena jeritan anak dan istri dirumah. Tetapi informasi terbaru, proses portofolio yang selama ini ada akan dihapus, dan diganti dengan program kuliah dua semester (1 tahun) dengan biaya sendiri. Bah…biaya sendiri??? Lagi-lagi, apakah kebijakan Pemerintah ini tidak ada yang iklas dan berpihak untuk orang miskin?? Semua selalu dibenturkan, dan tidak ada keberpihakan pada orang miskin.

Program itu rencananya juga akan diselenggarakan oelh LPTK / Unversitas kependidikan yang ditunjuk oleh Pemerintah. Sedangkan tidak semua universitas kependidikan di daerah masing-masing bias ditujuk. Logikanya, jika yang ditunjuk  itu universitas luar kota dengan jarak tempuh 5 jam minim dari daerah, apa tidak memberatkan guru tersebut, terutama guru yang GTT dan Honorer serta guru miskin yang hanya punya kolor, baju jelek, sepeda motor kridit dan otak kepandaian saja? Astagfirulloh…. Makar apa lagi yang akan dilakukan pemerintah pada pejuang pendidikan ini??

About these ads
  1. Mukti guru pekalongan
    Juni 20, 2010 pukul 2:15 am

    Kita sebagai guru gtt hendaknya saling berjuang.selama ini kita hanya mendapatkan tunjangan fungsional aja yang besarnya 250 Ribu.Tapi kita gak diberi kesempatan untuk mendapatkan tunjangan sertifikasi.Hendaknya pemerintah memikirkan nasib guru gtt.selama ini kita selalu dikebiri.

  2. rena
    Mei 28, 2010 pukul 7:55 am

    peran gtt dalam dunia pendidikan sangat besar mereka mengorbankan waktu dan tenaga untuk mencerdaskan anak bangsa namun nasip mereka tidak sama dengan pengorbanan mereka bagi saya ini suatu bentuk kezaliman udah tenaga dan keringat diperas namun kesejahteraan tidak diperhatikan

  3. Mei 19, 2010 pukul 6:07 am

    Yach, GTT dan Honorer mmang trmasuk pilar penting dalam pningkatan mutu pendidikan di Indonesia. Sudah selayaknya mereka diberikan perhatian khusus terlebih terkait kesejahteraaannya. Siapa lagi kalo bukan pemerintah yang memikirkannya….

  1. No trackbacks yet.
Komentar ditutup.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 34 pengikut lainnya.