Beranda > Pendidikan > Banjir Rob Kota Semarang

Banjir Rob Kota Semarang

Januari 23, 2011

Kota Semarang dengan penduduk sekitar 1,3 juta jiwa merupakan
ibukota Jawa Tengah, kedudukan Kota Semarang sangat strategis sebagai
simpul transportasi regional menjadikan kota Semarang mempunyai
kelengkapan sarana prasarana fisik sehingga dapat meningkatkan
pertumbuhan ekonomi. Hal tersebut mendorong pertumbuhan dan
perkembangan kota berjalan dengan cepat.
Seiring dengan laju pembangunan Kota Semarang, Pertumbuhan dan
perkembangan kota telah menyebabkan perubahan pada kondisi fisik
kota, yaitu perubahan guna lahan. Hal itu tentu saja menimbulkan
permasalahan tersendiri pada Kota Semarang. Semakin besar suatu kota
maka semakin besar atau komplek permasalahan yang ditimbulkan dan
dihadapinya, misalnya Kota Semarang. Kota Semarang dalam beberapa
tahun terakhir ini menghadapi permasalahan yang cukup sulit, yaitu
banjir.
Bencana banjir merupakan permasalahan umum terutama didaerah
padat penduduk pada kawasan perkotaan, daerah tepi pantai atau
pesisir dan daerah cekungan. Masalah banjir bukanlah masalah baru
bagi Kota Semarang, tetapi merupakan masalah besar karena sudah
terjadi sejak lama dan pada beberapa tahun terakhir ini mulai
merambah ke tengah kota. Hal tersebut di atas terjadi dikarenakan
adanya faktor alamiah dan perilaku masyarakat terhadap alam dan
lingkungan.
Sementara itu proses terjadinya banjir sendiri pada dasarnya
dikarenakan oleh faktor antroposentrik, faktor alam dan faktor
teknis. Faktor antroposentrik adalah aktivitas dan perilaku manusia
yang lebih cenderung mengakibatkan luasan banjir semakin
meningkatnya. Beberapa faktor antroposentrik yang juga merupakan
faktor non teknis penyebab banjir pada kota Semarang, yaitu
Pembangunan yang tidak berwawasan lingkungan, misalnya terjadinya
perubahan tata guna lahan pada daerah–daerah lindung seperti daerah
perbukitan dan daerah pegunungan sehingga menimbulkan problem
peningkatan run–off dan banjir kiriman. Sedangkan pembangunan ke arah
pantai dengan reklamasi menyebabkan luasan rawa menjadi berkurang
sehingga mengakibatkan luasan tampungan air sementara juga berkurang.
Perkembangan lahan terbangun suatu kota diakibatkan oleh
jumlah penduduk dan kegiatan-kegiatan kota seperti perumahan,
perkantoran, perdagangan, perindustrian dan lain-lain sehingga
meningkatkkan kebutuhan terhadap air tanah. Kedua fenomena tersebut
menimbulkan kecenderungan perubahan daya dukung sumber daya air
tanah, sedangkan di pihak lain terjadi penurunan volume/debit
pengisian kembali air tanah. Selain itu penyadapan/pengambilan air
tanah secara besar-besaran tanpa diimbangi dengan pengisian kembali
air tanah yang seimbang menyebabkan penurunan muka air tanah.
Penurunan muka air tanah ini dapat menyebabkan amblesnya permukaan
tanah dan intruisi air laut (Asdak, 1995: 243,249). Pemompaan air
tanah yang berlebihan tanpa memperhatikan kemampuan pengisian kembali
dapat mengakibatkan penurunan muka air tanah (Kodoatie, 1995: 103).
Terjadinya penurunan muka tanah mengakibatkan permukaan air laut
lebih tinggi dari permukaan tanah, kejadian ini dikenal dengan banjir
pasang air laut (rob).
Disamping itu perilaku dan aktivitas manusia yang menghasilkan
gas buang karbondioksida (CO2) yang bersumber dari pembakaran bahan
bakar fosil dan chloroflourocarbon (CFC) dari kulkas, sprayer kemasan
kaleng serta AC dapat mengakibatkan terjadinya penipisan pada lapisan
ozon, karena kedua gas buang itu mengeluarkan atom yang merusak
molekul ozon di atmosfer. Lapisan ozon merupakan pelindung bumi dari
pengaruh sinar matahari sehingga bila lapisan ini menipis maka akan
terjadi pemanasan global, sehingga menyebabkan lapisan es di Kutub
Utara dan di Antartika mencair. Akibatnya, permukaan air laut global
naik. Kenaikan permukaan air laut menyebabkan sebagian pulau dan
tempat rendah di permukaan bumi terendam (Suara Merdeka, 2001).

About these ads
Kategori:Pendidikan Tag:,
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 32 pengikut lainnya.