Beranda > Pendidikan > Beberapa Kasus pelaksanaan Pendidikan Anak Usia Dini, TK, KB

Beberapa Kasus pelaksanaan Pendidikan Anak Usia Dini, TK, KB

April 10, 2011

Kasus beberapa pelaksanaan Pendidikan Anak Usia Dini, TK, KB, sebagai berikut:
1. MBS di TK atau PAUD/KB di Kab. Sikka belum bisa berjalan dengan baik dikarenakan kurangnya kesadaran OT akan pentingnya pendidikan bagi bagi anaknya. Berbagai usaha sudah dilakukan dengan komite sekolah tetapi hasilnya belum optimal. Usaha apa yang perlu dilakukan agar masyarakat memiliki respons positif terhadap pendidikan TK dan PAUD? Jawab: salah satunya dengan membuat pembelajaran yang menarik dan kreatif sehingga OT berminat untuk memasukkan anaknya ke PAUD. Lainnya yaitu dengan mensosialisasikan pada masyarakat dengan mempromosikan pada OT untuk mau mengikutkan anaknya pada 2 hari sekolah gratis (trial class). Ini diharapkan dapat merangsang kesadaran OT dan memberikan kesempatan OT agar terbuka wawasan berfikirnya sehingga dapat merasakan manfaat PAUD yang sangat menyenangkan bagi dunia anak.
2. Masyarakat dan Dinas kurang memberi perhatian pada pengembangan PAUD. Ini disebabkan karena keadaan sosial ekonomi masyarakat yang rendah (di Kab. Sikka). Jawab: tahun ini Dinas (di Kab. Sikka) mulai menerima dana rintisan untuk KB sebesar Rp. 20 juta dari Pusat. Pendanaan tidak selalu dari pusat, melainkan dapat dari Dinas Kabupaten dengan adanya otda.
3. PAUD selama ini belum ada acuan kurikulum seperti di TK. Seperti di Muaro Jambi menggunakan kurikulum TK yang direndahkan kemampuan dasarnya. Apakah tidak ada kurikulum untuk PAUD non-formal? Jawab: ada yaitu dalam bentuk Standar Perkembangan Anak usia lahir sampai dengan usia 6 tahun.
4. Terjadi pergesekan antara PAUD dan TK. Dalam satu kelurahan terdapat beberapa tempat PAUD dan TK dan disarankan agar pusat membuat kebijakan yang mengatur jarak lokasi PAUD dan TK dalam satu lokasi. Jawab: perijinan TK dan PAUD sudah ada aturannya, namun pendirian TK/PAUD tetap ditentukan oleh daerah setempat.
5. Apakah tenaga pendidikan di PAUD sifatnya memang sukarela? Selama ini PAUD tidak ada program pengajarannya dan apa harus ada program pengajarannya? Jawab: untuk PAUD terintegrasi dengan POSYANDU yang biasanya disebut POS PAUD yang memang berasal dari tenaga sukarela ibu rumah tangga yang aktif di PKK. PAUD memang dirintis dari usaha sukarela dahulu. Dengan berkembangnya Direktorat PAUD maka sekarang mulai bermunculan dana-dana blok grant untuk PAUD. Namun tidak sepenuhnya dinikmati langsung tetapi diserahkan secara bertahap.
6. Apakah administrasi penilaian dan pembelajaran PAUD seperti TK? Jawab: perbedaan PAUD dan TK terletak pada usia anak didik. Oleh karena itu, pembelajaran dan cara penilaiannya sama.
7. Bagaimana persyaratan penyelenggaraan PAUD? Jawab: persyaratannya mencakup: anak didik, tempat pembelajaran, tenaga pendidik/pengelola, program pembelajaran, surat permohonan ke dinas pendidikan.
8. Penilaian individu dengan berbagai alat penilaian seperti, observasi, catatan anekdot, unjuk kerja, hasil karya, dsb akan sangat merepotkan guru. Apakah boleh dengan hanya membuat penilaian SKH saja? Jawab: penilaian tidak cukup hanya dilakukan SKH tetapi perlu dirangkum dengan menggunakan berbagai alat penilaian.
9. Apakah dimungkinkan SD, TK, KB, dan TPA menjadi satu lembaga seperti di South Australia mengingat pada jenjang pendidikan tersebut pendekatan pembelajarannya adalah bermain sambil belajar? Jawab: dalam satu lembaga pendidikan bisa saja terdiri dari SD, TK, KB, dan TPA seperti di luar negri. Hal ini sangat bergantung pada kemampuan yayasannya.
10. Masyarakat sangat menyambut baik adanya PAUD di masyarakat, tetapi pelaksana lapangan sering terjadi silang pendapat antara keberadaan TK dan PAUD (KB) yang pada umumnya ditangani oleh PLS? Jawab: PAUD dapat dikatakan sebagai payungnya, meliputi: TK, KB, TPA, Pos PAUD. Semuanya memiliki porsi berbeda dimana acuannya adalah usia anak.
11. Apa perbedaan antara TK dan KB? Jawab: antara TK dan KB tidaklah ada perbedaan yang signifikan dari segi pembelajaran, perbedaannya pada acuan utama yaitu usia: TK anak usia 4-6 tahun dan KB anak usia 2-4 tahun. TK berada pada jalur pendidikan formal sedangkan KB pada jalur pendidikan non formal.
12. Apakah anak harus melalui PAUD sebelum ke TK dan SD? Jawab: tidak ada ketentuannya dan TK bagian dari PAUD yang berada pada jalur pendidikan formal.
13. Wisuda bagi anak yang lulusTK diperbolehkan atau tidak? Jawab: tidak ada ketentuan mengenai boleh tidaknya wisuda di TK. Pada awalnya wisuda di TK itu hanya sebagai perayaan biasa saja yang kemudian berkembang menjadi satu tradisi seperti orang dewasa.
14. Apakah penilaian untuk PAUD bisa dapat dibuat lebih sederhana, seperti dicantumkan pada silabus semester/bulanan/mingguan? Jawab: penilaian tercantum ada di silabus tetapi hanya besarannya, sedangkan penilaian harian dapat dimasukkan setiap hari di SKH yang kemudian dirangkum perminggu atau bulan atau semester yang kemudian menjadi bahan acuan untuk pelaporan bagi orang tua.
15. Apakah tutor untuk PAUD selalu wanita? Jawab: Tidak ada ketentuan jenis kelamin untuk menjadi tutor paud asalkan yang bersangkutan memiliki kecintaan terhadap anak, sabar menghadapi anak dan memiliki keinginan untuk belajar tentang disiplin pendidikan anak usia dini.
16. Bila jumlah anak dalam satu kelas 40 orang dan guru hanya satu orang, bagaimana pemecahan mengelola kelas besar dengan model pengembangan berdasarkan minat, mengingat terlalu banyak area yang ada dan anak akan tersebar diberbagai area tersebut? Jawab: untuk mengelola TK dengan jumlah anak yang terlalu banyak cukup sulit. Hal ini bisa diatasi dengan melibatkan orang tua di sekolah, yaitu secara bergiliran OT diminta untuk membantu KBM di kelas. Melalui komunikasi yang baik tentu OT tidak akan merasa keberatan.
17. Bagaimana mengatasi anak yang lebih tertarik pada sudut pengembangan/pusat minat? Jawab: Jika anak tertarik pada pusat minat biarkan saja mereka bermain disana, namun guru sebagai pendidik hendaknya tetap menstimulasi anak untuk melakukan kegiatan pada pusat minat lainnya.
18. Bagaimana menangani anak hiperaktif? Jawab: anak hiperaktif perlu difasilitasi secara khusus di sekolah. Namun, apabila hal ini tidak dimungkinkan, dapat menjalin kerjasama dengan OT dalam hal keterlibatan di dalam pendidikan anaknya. OT dapat diminta untuk membantu guru saat KBM secara bergiliran untuk mengatasi anak-anak yang bermasalah.
19. Di Kelompok Bermain/KB masih memakai silabus yang umum seperti TK. Apakah format silabus untuk KB sama dengan TK? Jawab: tidak ada aturan harus sama, tetapi jika KB akan mengadopsi model program silabus TK diperkenankan.

20. Apakah anak usia 2-3 tahun jumlah temanya dalam satu semester harus 8? Jawab: jumlah tema untuk satu semester tidak ada ketentuan berapa banyak dan semua itu tergantung dari perencanaan mingguan dan tema yang dipilih sehingga semua indikator yang ada dapat dibagi habis dalam tema-tema yang menjadi pilihannya. Hal terpenting dalam pemilihan tema memperhatikan prinsip-prinsip pemilihan tema, misalnya: tema sebaiknya berasal dari lingkungan terdekat anak dan yang dapat memberikan stimulasi/motivasi/mendorong anak dalam melakukan aktivitas di sekolah: dari hal yang konkrit ke abstrak.
21. Bagaimana membuat pembelajaran Tematik di PAUD bisa berlanjut di SD (mengingat anak usia 0-8 tahun adalah “golden age”) sehingga pelajaran terlihat saling berkesinambungan? Jawab: saat ini telah ada aturan di Permendiknas No. 22 tahun 2006 bahwa SD kelas I s.d III dapat menggunakan pembelajaran tematik.
22. Berikan contoh kalau memang anak yang pernah mengikuti PAUD lebih siap bersekolah dibandingkan dengan anak SD? Jawab: pada minggu pertama anak SD masuk sekolah akan dapat terlihat perbedaan antara anak yang pernah bersekolah di PAUD dengan anak yang belum pernah sama sekali. Pada umumnya anak yang pernah mengalami pendidikan di PAUD akan lebih cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya dibandingkan yang tidak. Anak yang mengalami PAUD pada hari pertama di SD bisa langsung ditinggal oleh orang tuanya, tetapi tidak demikian bagi anak yang belum pernah. Hasil penelitian menunjukkan bahwaanak yang mengalami pendidikan melalui PAUD lebih mandiri dan lebih mantang secara emosional.
23. Apakah dalam SKM dengan indikator mendengarkan cerita harus dituliskan judul ceritanya? Jawab: sebaiknya judul cerita tidak perlu dicantumkan pada SKM, karena untuk satu indikator, misalnya “mendengarkan cerita” dalam satu minggu dapat diberikan beberapa kali sehingga akan banyak judul cerita yang harus ditulis (sebaiknya judul cerita ditulis di SKH saja).
24. Apakah dalam penyusunan SKM model pembelajaran minat boleh memasukkan berbagai aspek pengembangan pada satu area? Misalnya, pada area seni dicantumkan indikator dari aspek kognitif ataupun fisik motorik? Jawab: boleh dan memang demikian seharusnya.

25. Apakah ada kurikulum PAUD untuk pendidikan non formal? Jawab: ada, yaitu Standar Perkembangan Anak Usia Lahir sampai dengan 6 tahun.
26. Apakah PAUD dapat mengeluarkan Surat Keterangan Belajar? Jawab: pemberian Surat Keterangan Belajar tergantung pada kebijakan lembaga yang bersangkutan. Tidak ada larangan untuk mengeluarkan Surat Keterangan di pendidikan non formal selama menerangkan bahwa anak telah mengikuti pendidikan di lembaga tersebut.
27. PAUD terintegrasi telah tumbuh menjamur di beberapa provinsi, namun sampai saat ini kurang mendapat perhatian dari pihak Dinas dan Pusat dalam hal pelatihan tenaga gurunya seperti di TK? Jawab: untuk pelatihan pusat memberikan kesempatan yang sama baik itu untuk PAUD maupun TK. Namun, jumlah pesertanya masih sangat terbatas. Pusat akan tetap memperhatikan perkembangan SDM PAUD daerah, namun untuk kemajuan seseorang tidak hanya ditentukan oleh penerimaan pelatihan, tetapi dapat juga dengan belajar dengan teman atau belajar mandiri.
28. Penyelenggaraan PAUD di biayai secara gratis, seperti pengalaman di Muaro Jambi. Apakah untuk ketentuan administrasi, cara penilaian pembelajarannya harus sama. Jawab: suatu penilaian pembelajaran tidaklah ditentukan oleh gratis atau tidaknya pendidikan. Penilaian dilakukan untuk mengetahui sejauhmana hasil belajar anak didik. Jadi tidak ada perbedaan cara penilaian antara PAUD dan TK, karena TK termasuk dalam PAUD.
29. Mengingat PAUD ada yang gratis (seperti di Muaro Jambi) sehingga lebih diminati oleh OT. Bagaimana mengatasi agar TK juga diminati OT sehingga dapat menambah siswa? Jawab: agar TK menarik minat OT maka dapat dilakukan berbagai cara. Misalnya, memberikan “trial class” (kelas percobaan) sebagai promosi kepada OT atau menyajikan suatu pembelajaran TK yang dapat menarik minat anak dan OT.

 

About these ads
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 31 pengikut lainnya.