Home > sastra > Sastra : Di atas kepala mereka ada gambar aneh

Sastra : Di atas kepala mereka ada gambar aneh

May 3, 2009

Aku hanya benda kecil disudut kursi. Ditempat duduk berjejer, Diam, entah apa yg dipikirkan beberapa akhwat (sebutan untuk perempuan yang berjilbab dan aktivis, dan nantinya saya gunakan sebagai pengganti pengertian ini) hanya duduk dan memandang jauh. Beberapa kalimat terucap. Diujung deretan itu ada yang lebih senior, memencet HP, entah siapa yg di SMS, tapi yang jelas ada yang dinanti dan harusnya sudah dari tadi sampai. Kelihatan deretan akhwat itu seperti aura yang panas di kepala mereka. Ada ribuah api berwarna sedikit kuning kemerahan, tapi alunan istigfar memadamkannya.
Bahkan yang agak parah adalah akhwat yang di nomer tiga dari deretan kiri. Akhwatnya berkulit putih, hidungnya mancung kulitnya putih bersih, dan tentu semua orang berkata dia akhwat yang cantik. Dikepalanya ada bara yang kadang melompat-lompat letupan kecil bunga api. Tapi sekeliling kepalanya tiba-tiba diselimuti awan dan datanglah hujan dan sesekali meredupkan bara itu, merka adalah tangan di samping kanan dan kiri, entah tangan siapa, yang jelas balutan kain panjangmenutupi tangan itu, hingga hanya tingggal telapaknya yang kelihatan. Tahukah kamu, Bara dan api itu bernama dongkol.
Dan di belakang beberapa deret jauh di kursi, deretan ikhwan (sebutan untuk pria sholeh berjanggut yang aktivis, nanti saya pake sebagai istilah di tulisan ini) sedang duduk dengan majalah al izzah dan diiingi diskusi dan canda kecil. Tak tampak dikepala meraka api, tapi hanya angin yang berhembus kian kencang. Bukankah itu adalah pusaran? Angin yang bertiup dan bisa menjadi teramat besar hingga kuil istana Raja Kisra bisa runtuh dibuatnya.
Dan aku tetap memandangi sebagai sebuah kertas kumal tak bermateri layak. Andai dua kutup itu bertemu, oh… saya salah, bukan dua kutub, tapi dua elemen, Api dan angin. Konon elemen angin adalah elemen terkuat dari ke empat elemen yang ada. Api yang membara itu bisa redup dengan tetesan air. Dan air bisa musnah dengan tiupan angin. Apipun tidak berkutik ketika hampa udara, atau bahkan bisa dikendalikan angin. Gunungpun bisa runtuh dengan angin. Lagi-lagi (qila wa qola) Konon, angin menguasai gunung dengan tancapan paku raksasa. Dalam Al-Qur’an gunung di ibaratkan pasak-pasak yang menghujam bumi.
Deretan ikhwan itu terus menghembuskan angin yang riuk rendah, sesekali menghujam. Kemudian di depan para akhwat itu ada seorang kondektur dan kenek bus yang mencari ”mangsa” (mangsa adalah kata ganti untuk mencari penumpang, kalimat ini akan saya gunakan untuk tulisan selanjutnya). Kenek itu berbincang dengan kondekturnya ”kang.. deloken itu, cewek sing nomer telu. Ayu yo..’ (senyumnya menyeringai tanda tidak ada benteng yang menghalangi tembok besar untuk berkata dan berekspresi) Si Akhwat nomer tiga mendelik matanya, kemudian aku melihat bara yang teramat panas, apinya berkobar besar.
Aku hanya kertas lusuh yang tak bermateri dan tak ber predikat. Berada dipojok ujung bangku, dilewati kaki, di injak sandal. Bahkan tak seorangpun yang mw tahu eksistensinya kertas lusuh tak bermateri tak berpredikat. Api itu kemudian padam, siring senyum dan usapan tangan para akhwat lain yang berjejer di samping kanan kirinya.
Tak lama yang senior mletakkan HP. Melihat yang dinanti sudah datang. Dengan muka kusut dan penuh rasa bersalah menghampiri jejeran kain panjang memenuhi bangku terminal itu. Sambutan yang beragam muncul, dari yang kecut bermahkota getaran gempa, ada yang dingin bermahkota salju beku dan ada yang meledak bermahkota bara api. Tapi semua menjadi riang bermahkota daun yang bersemi dan kicauan burung kecil, tak kala yang senior menghampiri dan memberikan senyum pada deretan kain panjang di bnagku terminal itu.
Dan romobongan kain itu menuju bus PATAS dengan Ac, melewati kenek dan kondektur yang meyeringai mencari mangsa. Disusul para ikhwan yang membawa ransel berisikan bom, pelontar granat, RGP dan senapan AK-47. Di dalam sudah banyak orang, ada ibu-ibu yang memegang pistol barreta, ada juga nenek yang bergigi emas memanggul bazzoka. Hari yang membuatku begidik. Bus itu melaju dengna kecepatan sedang, nyala AC di dalam membuat penumpangnya terkantuk. Dan akupun menjadi partikel kedinginan disudut dalam bus. Aku menjadi sebutir kacang garing yang terkelupas kulitnya. Sayang sekali, aku merasakan kedongkolan sang manusia pengupas kulit kacang yang bersusah payah mengeluarkan dari kulit ini, ketiak ingin memakan isinya rem mendadak sopir bus PATAS menjadikan diriku tergunjang dan jatuh dari pelukan jahanam manusia.
Di ujung depan belakang sopir ada ibu-ibu dengan konde besar, dan pakain kebaya. Lebih mirip waranggono dalam pentas pewayangan. Di sisinya gadis lembut nan ayu dengan balutan kebaya yang khas jawa jawa tengah, lebih pantas menjadi ”Sembodro”. Di sampingnya lagi lelaki dengan tatapan brangasan kumis yang tebal dan dan sebilah samurai panjang bergelantungan di pinggangnya, lebih pantas menjadi ”Dursosono”.
Aku tidak yakin dengna karakter yang mereka mainkan dengan apa yang mereka kenakan. Atau Cuma melihat bentuk wajah dan tatapnnya. Lagi-lagi aku terhenyak keras. Kacamata sihir pinjaman ”Harut dan marut” ini membuat aku tambah lebih dewasa dan terlihat perlente. Walau aku hanya isi kacang yang terkelupas kulitnya. Kacamata ini melihatkan aku pada gambar-gambar yang super aneh pada setiap bentuk tubuhnya, ah.. sang Ibu waranggono wayang itu diatas kepalanya ada tangisan anak kecil. Oh.. dia menyuapi dan meneteki anak kecil itu.. bukankan harusnya dia lebih pantas menjadi eyang dari pada seorang ibu. Tapi kenapa yang menetek itu tidak hanya satu abyi, tapi puluhan bayi yang mengantri di sapi dan diteteki. Saya tidak yakin jika ibu waranggono itu masih bisa mengeluarkanair susu.
Kacamataku menadi buram tatkala tiupan angin entah darimana asalnya membuyarkan konsentrasiku. Di sebelahnya ibu itu, sang ”Sembodro” duduk manis, diata skepalnya ada gambar aneh, dia mebanting piring dan mengoceh keras seperti petir yang menyambar kesana kemari, hingga setiap tumbuhan yang mendapat hawa (abab) dari mulutnya menjadi layu dan mati. Oh… sang sembodro menjadi ”Dewi Durga”.
Di sampingnya, ada Dursosono. Saya tidak yakin orang ini akan menampilkan gambar yang baik, pikirku. Tapi dari tadi saya tidak pernah bisa melihat dan menembus visual gambar dari atas kepalanya. Sang Dursosono terduduk tenang, mulutnya terkatup, tapi dada sebelah kirinya bersenandung, hingga angin, awan, dan setiap partikel disekelilingnya mengikuti bersenandung. Nyanyianya bertema samawi. Dan membentuk pusaran menjadi hujan gemerlap seperti berlian yang diterbangkan angin, Sungguh indah. Senandung itu bernama dzikir.
Bertahun lamanya aku didalam bus ini, dan tidak ada seorangpun yang mengenalku sebagai kacang yang terkeluas kulitnya.
…………………………….
*waranggono= sejenis sinden yang menyertai dalang dalam setiap pertunjukan, penambuh gong, gendang, bonang kenongdll juga disebut waranggono.
*Dusosono= tokoh pewayangan dengan karakter keras brangasan
*Sembodro=tokoh di pewayangan dengan karakter lembut dan letto lambat

Categories: sastra Tags: