Home > URGENSI BAHAN AJAR > URGENSI BAHAN AJAR

URGENSI BAHAN AJAR

May 5, 2009

Resume:
Bahan ajar dalam proses belajar mengajar sangat urgen sekali. Kesalahan dalam mentukan bahan ajar akan berdampak pada hasil transformasi nilai dari guru ke siswa. Mahalnya bahan ajar dan kurang mengena pada diri anak disebabkan ketidak fahaman guru pada anak didiknya. Bahan ajar Multimedia sebagai bahan ajar mahal tetapi murah ketika tau memanfaatkannya.

Dalam proses kegiatan belajar mengajar di kelas, pendidik memiliki banyak strategi pembelajaran. Karena dalam prencanaannya model pembelajaran akan mempengaruhi tingkat kefahaman anak didik. Tidak diragukan lagi ketika model pembelajaran yang monoton dilakukan guru, maka rasa nyaman anak dalam belajar berkurang, itu dampak terkecilnya. Hal ini tentu saja akan merembet pada tingkat motivasi anak, kemudian mempengaruhi daya serap dan tentu saja implikasinya kepada hasil dari proses belajar.
Selain model pembelajaran, yang perlu diperhatikan guru adalah sejauh mana guru bisa menyediakan bahan ajar berupa alat peraga dan media penyampai. Pengertian Bahan ajar dapat kita fahami sebagai informasi, alat, dan teks yang diperlukan seorang guru/instruktur untuk perencanaan dan penelaahan implementasi pembelajaran.
Dalam setiap proses belajar di dalam kelas, tidak lepas dari permasalahan dan karakter anak. Hal inilah menjadi tolak ukur dalam menentukan model pembelajaran. Artinya ketika guru menyusun sebuah rencana pembelajaran, harus memperhatikan karakter dan keadaan anak. Ketika kita menentukan Standart Ketuntasan Belajar Minimal anak saja, kita perlu tahu Intake siswa. Dimana intake siswa ini sebagai acuan menentukan ketuntasan kedepannya. Artinya, permalasahan, keadaan real, dan daya serap anak pada kelas sebelumnya (latar belakangnya) menjadi hal yang penting. Banyak sekarang ini kebijakan yang dikeluarkan oleh para pengambil kebijakan tidak pernah melihat pada latar belakang obyek. Mereka hanya melihat pada teori Trickle down effect. Hingga lahirlah kebijakan yang inkonsisten.
Seorang guru sebagai regulator dan transformator nilai sekaligus, tentunya melihat miniatur penerapan kebijakan dalam ranah Rencana pembelajaran harus tepat pada sasaran. Guru melihat sejauh mana seorang anak didik bisa menerima materi dan nilai yang terkandung dalam setiap pelajaran. Karena memang proses pembalajaran ini haras melihat apakah seorang anak itu daya serap nilainya lebih bisa diterima dengan bentuk audio, visual ataupun kinestetik. Karena tiga hal itu ada pada masing-masing diri anak didik. Oleh karena itu kita meyakini adanya multiple intelegensi. Kemampuan yang berbeda dan plural pada diri anak haruslah disikapi dengan bijak. Penerapan methode pembelajaran yang monoton dan tidak variatif menjadikan anak terbebani. Suatu kasus seorang anak yang memiliki kemampuan visual yang kuat tetapi lemah dalam masalah linguistic ataupun audio, maka yang perlu di terapkan adalah penguatan pada visualnya. Bahan ajar yang dipakai tentu saja harus mendukung kemampuan anak dengan kemampuan visual tadi.
Bahan ajar yang disiapkan ketika kita menyusun sebuah rencana pembelajaran, dapat kita variasikan. Semisal kita menggunakan media audio, bagi anak yang memiliki kemampuan visual akan tidak sama hasilnya. Apalagi ketika anak dengan tipe kemampuan kinestetik, yang mana dia perlu melihat mendengar dan merasakan. Tentu saja hal ini lebih ada perhatian lagi dari yang lain.
Bahan ajar yang digunakan bisa bervariatif, salah satunya menggunakan bahan ajar multimedia. Bahan ajar ini relative mahal ketika kita harus mengadakan alat dan perlengkapanya. Tetapi sebaliknya, bisa menjadi murah ketika alat yang dibutuhkan dalam membuat sudah tersedia dan kita tinggal lebih kreatif menggunakannya. Semisal TV dan VCD player sudah ada pada ruangan kantor, seperangkat computer di kantor yang dilengkapi multimedia dengan TV tunner dan CD writer sudah cukup untuk membuat bahan ajar multimedia. Kita bisa mengambil sebuah tema dari materi dan dihubungkan dengan permasalahan yang ada di lingkungan sosial. Semisal dalam pelajaran sejarah, dalam tayangan TV terdapat berita perang, peningalan jaman dahulu dsb. Guru tinggal me record dengan TV tunner dalam computer dan menyimpannya dalam file MPEG-1 kemudian mem-burning dalam VCD. Hal ini lebih murah dan bisa diterapkan oleh guru ketika mengajarkan di depan kelas. Guru tinggal memutar dengan VCD player dan anak-anak memperhatikan, kemudian baru mendiskusikannya. Atau diawali dengan ceramah dan memberikan contoh pada bahan ajar multimedia tadi. Bisa juga diterapkan untuk Pekerjaan Rumah (PR) anak diberi tugas menyimak sebuah tayangan di televise dirumah, kemudian kita merecordnya dan besoknya mendiskusikannya. Bahan ajar multimedia yang murah tadi bisa kita manfaatkan. Atau bisa juga ketika kita lebih kreatif, kita bisa mendownload free seperti pelajaran IPA tentang makluk hidup, tata surya dan lain sebagainya pada situs milik Harun Yahya (seorang ilmuan dari Iran, karyanya sudah di terjemahkan pada Bahasa Indoensia) yang menyediakan product free di internet banyak sekali.
Dengan begitu bisa diharapkan seorang anak didik dapat menyerap pelajaran dengan baik. Hingga ketika mereka belajar yang tidak ada rasa bosan dan jenuh. Melainkan rasa senang dalam belajar. Karena rasa senang dalam proses Kegiatan Belajar Mengajar adalah daya bakar anak untuk terus mau belajar dan mencoba hal baru. Multimedia sudah akrab dengan anak dan mudah sekali mengoperasikannya. Oleh karena itu bahan ajar ini bisa menjadi rekomendasi yang sangat baik ketika menyampaikan sebuah materi pembelajaran di kelas. Karena sifatnya mudah, murah dan akrab dengan anak didik