Home > tulisan lepas > Sampe disini…. Bye cikeas. Putaran depan kamu bukan apa2 dn siapa2.

Sampe disini…. Bye cikeas. Putaran depan kamu bukan apa2 dn siapa2.

May 14, 2009

Kontilasai pilitik nasional berubah setiap detiknya, pola koalisi yang tidak kuat dan rapuh menjadikan setiap gerakannya rawan perpecahan. Tentu saja dalam tata perpolitikan Indonesia hal ini dianggap wajar. Karena memang pada dasarnya koalisi berdiri atas dasar kesamaan dan kesepakan kepentingan bersama. Jika dalam komunikasi tidak ada kesepahaman bersama (antar element koalisi) tentu saja perahu koalisi bias berpisah. Oleh karena itu ketika koalisi cikeas mengusung wacana Cawapres SBY adalah Budiono, ternyata banyak pertentangan diantara anggota koalisi. Yang paling dirugikan adalah kelompok Islam. Keterwakilan mereka dalam kabinet dengna penempatan orang nomor dua tidak dapat terlaksana. Hal ini tentu saja menjadikan kejengkelan ketikamereka harus menetukan sikap pada kader (konsituennya) dibawah. Karena ketika konsituennya memilih PKS mereka mengharapkan kader utama PKS bisa menjadi orang nomor satu atau nomor dua. Kenapa Wapres? Karena memang wapres adalah posisi yang sangat strategis setelah Presiden.
Kewenangan yang luar biasa besar terhadap pengaturan bangsa ini perlukan. Sebenarnya abanyak tokoh mengatakan koalisis bukan sekedar bagi keuasaan atau sekedar pencalonan Capres Cawapres. Akan tetapi lebih dari itu yaitu mennetukan arah platform dari pemabngunan bangsa ini. Ketika par apakar menuding partai peserta koalisi mementingkan dirinya dan tidak memntingkan keentingan bangsa, para partai berdalih ini sebuah kewajaran politik yang bis adilaksnakan. Memang dalam pergulatan perpolitikan kita tidak bisa melihat secara liear dari masalah ini. Orang yang berpandangan liner mengatakan partai pragmatis. Sedang disis lain ada banyak hal yang bersifat �halus� yang orang awam kurang bisa faham terhadap masalah ini. Contoh kecil ketika komposisi SBY-Budiono. Satu hal saja, ketika pasangan itu dilontarkan pada publik sebagai kandidat pada pipres mendatang, apa mungkin nilai jual mereka bisa diperjuangkan.
Dalam sisi lain, alasan pemilihan budiono juga kurang begitu realistis. Walau ketika SBY memberi argumen akan stressing perbaikan bangsa dengan perbaikan ekonomi di era krisis global saat ini, dan lobi ke moneter dunia untuk pemodalan kedepan. Disisi lain, peran pemimpin negara (presiden-wakil presiden) sangat besar. Tdka hanya maslaha ekonomi saja. Diperlukan keahlian yang multi kemampuan dalam memanejemen itu semua. Budiono seoran gtehnokrat yang cenderung bergelut pada tataran tehnis, sedang yang diperlukan dalam tataran pengambil kebijakan (dececiton maker) adalah kemampuan leadership dan pilitik yang bagus. Klaau maslaah tehnis adanya mentri adalah salah satu perannya. Oleh karena itu sangat wajar ketika para partai politik menolak budiono sebagai cawapres kubu koalisi cikeas. Tentu analisa tersebut terlepas dari status ideologi Budiono yang �Neokolim�. Keberpihakan Budiono pada asing �Amerika� sangat kuat, begitu juga dengan Sri mulyani dan Marie Elka Pangestu. Dibelakang mereka ada nama IMF dan Bank Dunia yang memenuhi kepala mereka dengan ide-ide Neo kolonialis imperisalisme.
Akan tetapi hal itu mungkin bisa dikesampingkan. Kenapa? Karena salam tulisan ini saya melihat pada tataran tehnis kapabelity sesorang dalam menentukan kebijakan. Mungkin jalan terbaik bagi partai koalisi adalah menarik dukungan dari koalisi Cikeas dan menjadi oposan pada pemilu kali ini. Toh setelah ini SBY bukan siapa-siapa (karena Cuma punya kesempatan menjadi presiden dua kali) dan Demokrat bukan apa-apa tanpa khans SBY.

Categories: tulisan lepas