Home > sastra > Gadis Muda, Danau dan Garam

Gadis Muda, Danau dan Garam

April 22, 2010

Suatu hari, seorang gadis muda umurnya sekitar 20 tahunan melangkan kesebuah danau yang airnya jernih. Rambutnya yang berombambak diterpa angin. Sesampai di pinggir danau gadis tersebut terdiam membisu. Pandangannya menerawang entah kemana. Ada seonggok pikiran mengganjal pada dirinya. Beberapa detik kemudian, matanya berkaca-kaca, mengalirlah beberapa tetes air matanya.

Kesedihan itu bernama luka, yang sangat dalam rasanya. Kemudian gadis itu mengeluarkan sesuatu dari tas kecil yang dibawanya. Sebuah pisau yang tajam, hingga mata pisau itu bisa terlihat dari kejauhan kilatnya. Beberapa detik kemudian, tangan dengan pisau itu berayun hendak mengiris pergelangan tangan kirinya. Ajaib, tangannya seperti berhenti, ternyata… disebelahnya ada seorang tua renta berbaju putih besih dan bersinar terang disekelilingnya memegang tangan gadis cantik itu. Dia terperanjat, tidak bias berkata kecuali isak tangis.

“Ada apa gadis muda…?? Kenapa engkau hendak melakukan tindakan yang keji itu?”

Sang kakek membuyarkan kemelut di pikiran gadis itu? Tersadar gadis itu dengan tatapan penuh luapan emosi.

“Saya…. Saya…” bibirnya bergetar dipenuhi liangan air mata. “Saya tidak ada gunanya hidup lagi… semua yang saya punyai sudah hilang”

“Apa itu” segah orang tua tersebut.

“Semuanya… ayah dan ibu saya hendak becerai, keluarga saya hancur…, tunangan saya membatalkan pernikahan saya… dan kuliah saya ikut terpuruk karenanya…”

Orang tua bijak tersebut kemudian tersenyum kecil.

“Gadis muda… sabarlah, ada jalan keluar dari semua itu, tidak perlu melakukan hal yang dibenci Allah”.

Gadis muda… seberapa banyak masalahmu, itu semua tergantung kamu untuk menyelesaikannya. Ini lihatlah…

Kemudian orang tua itu mengeluarkan gelas kosong, diambilnya air dari danau itu kemudian memberi segenggam garam pada gelas tersebut, dan menyuruh gadis itu meminum air dari danau. “Apa rasanya” Tanya orang tua tersebut. “Asin… asin sekali”.

Kemudian orang tua itu mengambil segenggam garam lagi dan menaburkannya pada danau yang luas tadi. Kemudian baru dia mengambil segelas air daripadanya dan menyuruh gadis tersebut meminumnya.”Apa rasanya??” Tanya orang tua tadi. “Tidak berasa, Cuma air  danau yang segar”

Sang kakek tersenyum. “Itulah… jika hati dan pikiranmu seluas gelas, maka masalah yang diibatkan segenggam garam tadi akan terasa asin. Tapi jika hati dan pikiranmu seluas danau itu… maka masalah sebesar genggaman garam tadi tidak akan berasa”.

Sang gadis terdiam.. menata hati.. menata pikiran, dan melangkah meninggalkan kakek tadi dengan hati dan pikiran seluas danau.

Categories: sastra Tags: , , ,