Home > tulisan lepas > Serba Sedikit Tentang Organisasi (memperingati May Day)

Serba Sedikit Tentang Organisasi (memperingati May Day)

May 1, 2010

Hari buruh 1 Mei adalah hari buruh sedunia. Banyak elemen dan organisasi buruh akan turun ke jalan. Pertanyaannya sekarang adalah ketika banyak sekali organisasi buruh yang ada, tetapi kenapa perjuangannya tidak signifikan. Apa benar semuanya bergerak dan membentur tembok penguasa dengan sia-saia. Ada apa dengan semua itu? apa menejemen dari organsasi yang buruk? Apa juga karena konflik kepentingan yang memecah belah mereka. Seperti kita tahu banyak organisasi buruh seperti :
• ABM – Aliansi Buruh Menggugat
• FPBJ – Federasi Perjuangan Buruh Jabodetabek
• SPSI – Serikat Pekerja Seluruh Indonesia
• SPN – Serikat Pekerja Nasional
• FSBI – Federasi Serikat Buruh Independen
• GASBIINDO – Gabungan Serikat-serikat Buruh Islam Indonesia
• KASBI – Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia
• FSPMI – Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia
• FSP KEP – Federasi Serikat Pekerja Kimia Energi Pertambangan dan Umum
• ASPEK Indonesia – Asosiasi Serikat Pekerja Indonesia
Dan ternyata daya dobrak organisasi tersebut tidak cukup baik untuk memperjuangkan hak buruh. Kita akan tilik sebenarnya apa saja yang mempengaruhi dinamika sebuah organisasi itu.
Organisasi adalah sebuah system yang berperan untuk mencapai sesuatu tujuan. Dalam bahasa Yunani disebutkan organon adalah alat, adalah suatu kelompok orang dalam suatu wadah untuk tujuan bersama. Bergeraknya system ini tentu saja akan dipengaruhi banyak hal, tentu saja yang menjadi elemen dari organisasi ini, bisa SDM, bisa system nilai atau perangkat kerasnya.
Akan tetapi berbagai organisasi mengalami pasang surut dalam dinamikannnya. Saya dulu adalah seorang aktivis kampus, waktu sebelum reformasi meletus, saya sangat kagum dengan para aktivis mahasiswa yang berjuangan dengan elemen organisasi. Waktu SMA sudah sangat ingin bergerak dan berjuang. Hingga ruh itu menjadi bentuk militansi saat saya benar-benar menjadi mahasiswa dan menciptakan kesadaran pada diri. Dan reformasi yang kami dengungkan menjadi bola salju yang besar hingga meruntuhkan keangkuhan orde baru.
Akan tetapi seiring bergolaknya keadaan situasi nasional musuh bersama merekatkan rasa kebersamaan dalam sebuah elemen. Akan tetapi semakin keadaan kondusif, maka akan terjadi sebuah kerenggangan. Entah bisa disebut sebagai suatu kepentingan yang bermain atau sekedar dinamika saja.
Keadaan itu tentu sering bisa kita jumpai pada beberapa organisasi yang ada, baik ormas maupun organisai kampus intra maupun ekstra kampus.
Ada dua hal utama yang perlu diperhatikan sebuah organisasi, yaitu antara lain: 1). Pertama, sebuah organisai hars memiliki rumusan dan tujuan serta target yang jelas. Artinya, seorang aktivis yang memagang struktur harus pandai dalam menakar, tidak emosional dalam menentukan tujuan, target dan rumusannya. Hal ini harus realistis, menimbang baik buruknya, keuntungna dan kerugiannya serta daya dukung dari dalam maupun dari luar. Sering kali yang dihadapi adalah keadaan aktivis yang emosional dalam menentukan target karena pengaruh kondisi nasional, local yang sebenarnya tidak terlalu mengacu pada arah tujuan yang sebenarnya dari organisasinya.
2). Kedua, adanya proses kristalisasi indeologi. Jika sekarang banyak yang mengatakan matinya tidak laku ideology dijual, karena nilai humanistic akan menggantikannya, itu juga salah. Ideology adlaah nilai ruh perjuangan yang tidak bisa mati. Artinya ideology adalah penuntun garis perjuangan. Tanpa ideology hal yang paling buruk adalah tidak ada militansi pada para aktivisnya (kadernya). Jika kita lihat saja mungkin bisa jadi pengeorbanan kader terhadap ideology pragmatis bisa kuat, karena adanya dana (uang) yang merekatkan mereka. Setelah tidak ada maka semua akan melemah dan nglokro. Oleh kerena itu, ideology adalah sbuah harga mati bagi organisasi. Dia yang menjadikan kader mau berkorban dengan iklas bahkan mempertaruhkan nyawanya.
Nah sekarang kenapa sebuah organisasi sering kali mengalami sebuah konflik dan arena konflik itu maka sebuah orgaisasi tidak bisa bergerak maksimal. Walau sebenarnya, konflik bukan sebauh hal yang tabu dalam organisasi, itu sebuah kewajaran dan bagian dinamika. Konflik sebenarnya berlokasi pada:
1). Komuniakais yang tidak baik mnejadikan organisasi riskan terhadap konflik.
2). Perselisihan individu dalam organisasi juga bisa membawa perahu organisasi itu terbawa pada konflik besar.
3). Faktor eksternal juga mempengaruhi sebuah organisasi.
Akan tetapi ketika kita lihat sebuah organisasi perjuangan untuk perubahan, kerap kali perpecahan dan konflik terjadi disebabkan adanya, 1). Perbedaan garis perjuangan pada para aktivisnya. Hal ini disebabkan adanya perubahan-perubahan. 2). Perbedaan taktik dan strategi yang belum sempat diselesaikan oleh organisasi. 3). Perbedaan kepentingan, hal ini sering terjadi pada organisasi yang mudah disusupi oelh penguasa. Pecah belah dan teori belah bamboo sering digunakan dalam kasus ini.
Banyak organisasi buruh, ormas atau bahkan ekstra kampus yang sering kali mengalami hal seperti ini. Dan dampaknya tentu saja tujuan yang dirumuskan hanya akan membentur tembok penguasa yang kuat. Artinya, banyak perjuangan yang nyaring gaungnya tetapi targetnya tidak pernah tercapai. Masih ingat seperti gerakan yang besar di media, tapi kecil di dunia nyata. Semoga dengan ini kita bisa lebih instropeksi diri. Benahi organisasi kita dan rapikan. Rosululoh mencontohkan dengan tandzim, barisan shof sholat, harus rapi, tidak ada yang bengkok dengan 1 komando imam. Mari kita contoh Rosululloh dalam berorganisasi. Wallohuaklam.

Categories: tulisan lepas Tags: ,