Home > tulisan lepas > KEKERASAN DAN PANTANG KEKERASAN

KEKERASAN DAN PANTANG KEKERASAN

May 4, 2010

Perubahan Saat Ini adalah awal dari perubahan yang akan datang. Sebuah ungkapan yang sangat revolusioner dan berkelanjutan. Setiap jiwa yang revolusioner akan selalu bergejolak. Setiap jiwa perubah akan selalu didera rasa rindu dan setiap jiwa perubah akan selalu tidak tenang terhadap tatanan yang tidak adil.
.
Hingga seperti memberi sebuah pedang yang sangat tajam pada sang perubah yang tajamnya dapat merobek setiap dada kekerdilan hati, yang kilatnya adalah setajam mata elang.
.
Perubahan bisa di mulai dari setiap diri, komunal sampai pada tatanan sosial dan kenegaraan. Dalam teori perubahan ada beberpa karakteristik yang sangat unik. Dan jalan yang dilalui juga sangat unik. Ada jalan “kekerasan” dan jalan “Pantang kekerasan”. Diantara dua jalan yang ditempuh itu bukan tidak mungkin kita akan mengambil salah satunya. Artinya kekerasan yang dilakukan tidak serta merta kita meng-judge-men sebagai bentuk distruktive movement, melainkan cara yang dianggap sebagai bentuk penyesuaian terhadap lingkungan perubahan, atau pengkondisian lingkungan. Sebagai contoh gerakan HAMAS di Palestina yang di jiwai ruh Ikhwanul Muslimin beda dengan Ikhwanul Muslimin yang ada di Mesir. Begitu juga dengan bentuk territorial lain yang ada di Negara lain.
.
Jalan Kekerasan adalah sebuah jalan yang dicapai yang dibedakan antara tujuan dan cara. Artinya tujuan dari sebuah gerakan berbeda dengan cara yang di pakai. Akan tetapi model ini sering kali di protes oleh beberapa aktivis lain. Karena memang harus ada mach antara tujuan dan cara. Seperti visi dan missi harus sejalan.
.
Dalam model pertama di sebutkan bahwa pembedaan antara tujuan dan cara seperti memilah antara tujuan untuk tatanan masyarakat yang lebih baik dengan cara kekerasan dan menumbangan kekuasaan yang “Despotik”. Hal ini tentunya hanya ada bentuk penghabisan lawan, dalam teori perang “membunuh atau terbunuh” dalam teori radikal “dengan cara apa saja asal bisa memenangkan pertempuran”. Oleh sebab itu model pembedaan tujuan dan cara sangat di tentang oleh beberapa agent perubah yang mempunyai dasar dan jiwa patriotisme dan konsistensi terhadap sebuah nilai.
.
Sebagai contoh perang suku atau kerusuhan sosial di Ambon, sampit, papua dan sebagianya. Perang sipi saya menyebutnya, cenderugn tanpa aturan dan etika perang. Perubahan yang di tuju juga sebatas tujuan jangka pendek dan caranya pun terkesan mengambang tanpa konsep. Karena memang tidak ada etika dalam perang. Lain halnya dengan perang antar Negara.
.
Kemudian, jalan kekerasan yagn di capai bisa dimungkinkan sejalan antara tujuan dan cara. Hal ini dapat dilihat dari etika perang yang sangat dijunjung oleh para Nabi dan Rosul dalam memerangi kaum kafir. Tidak membunuh anak-anak dan wanita kemudian adanya jiwa untuk kemaslahatan umat manusia tanpa merusak dsb.
.
Begitu juga gerakan massa yang ada di masyarakat. Dalam teori kekerasan sebenarnya tidak bisa kita menyamakan dengan criminalitas. Para demonstran yang berdemo menolak kenaikan BBM sampai bentrok dengan aparat adalah bentuk perjuangan dengan kekerasan, bukan bentuk kriminalitas. Jika Polisi mendakwa dengan pasal kriminalitas berarti polisinya masih kurang faham hukum dan perlu ikut diklat KADARKUM. Karena memang gerakan kekerasan dilegitimasi oleh rakyat sebagai bentuk aspirasi mereka terhadap kesewenang-wenangan pemerintah.
.
Cara yang kedua yang cenderung safety movement adalah Gerakan “pantang kekrasan” artinya gerakan ini lebih cenderung sebagai bentuk persuasi terhadap sebuah kebijakan. Karena memang gerakan Pantang Kekerasan ini lebih mengutamakan persamaan antara tujuan dan cara. Cara yagn ditempuh tentu saja harus sesuai dengan tujuannya. Jika bertujuan akan kesejahteraan rakyat maka cara yang ditempuh jangan sampai menyengsaakan rakyat. Walau dalam cara ini sangat lambat dan kurang revolusioner. Gerakan ini membangun opini dan sedikit-demi sedikit mempengaruhi sebuah kebijakan pemerintah. Ada beberapa tahapan agar sebuah gerakan pantang kekerasan ini bisa memasukkan nilai-nilai ideal mereka pada decision maker. Tahan yang pertama adalah penawaran atau persuasi nilai pada penguasa, yang mana diharapkan nilai ini bisa diterima karena penalaran mereka terhadapan nilai. Jika hal ini diterima maka nilai idea itu akan dipergunakan sebagai policy dalam regulasi pemerintah.
.
Sedangkan jika tahapan ini tidak bisa maka biasanya para agent perubah menggunakan tahapan lain yang sedikit membuka mata mereka, dan mata masyarakat akan kejamnya pemrintah yang despotic. Dengan mogok makan contohnya.
.
Kemudian tahapan yagn paling sedikit ekstrim jika kedua hal itu tidak bisa terlaksana maka bisa di gunakan methode menolak kerjasama dengan pemerintah apapunbentuknya. Menolak membayar Pajak, menolak Pemilu, menolak setiap kebijakan, dan itu diopinikan dan dilakukan. Agar penguasa yang dholim dapat sadar dan mau bernegosiasi, karena kepentingan masing-masing dapat dipenuhi. Dan kedholiman dapat di hilangkan sedikit-demi sedikit.
.
Akan tetapi hal itu tidak mengurangi esensi dari sebuah movement. Karena hanya orang yang bergerak lah yang akan hidup dan berubah.

Categories: tulisan lepas Tags: , ,