Home > lebaran, religius > Lebaran dan fenomena mobil masuk kampung

Lebaran dan fenomena mobil masuk kampung

September 12, 2010

hari ini adalah hari ketiga lebaran. Memang setiap daerah akan berbeda penyikapannya. ada yang merayakan haya sampai 2 hari lebaran, setelah itu udah pada sepi semua. Tetapi di daerah kaum santri dan religius sampai seminggu bahkan 10 hari masih ramai. Tradisi ini memang unik di Indonesia. Adanya makanan disetiap rumah, menanti para tetangga yang berkunjung saling bermaafan dan juga anak-anak kecil yang setia dan sabar mau bertandang dari rumah kerumah. sungguh nuansa yang jarang ditemua tiap bulannya, hanya di bulan syawal.
Tentu saja yang paling ramai adalah dirumah para kiay dan para sesepuh, atau paling tidak embah yang dituakan. pastilah disitu banyak terjadi penumpukan orang. Adakalanya orang yang datang adalah para tetangga atau bahkan sanak famili yang datang dari luar kota atau ibu kota pun, menyempatkan diri untuk mudik. Di setipa rumah akan ada fenomena baru, yaitu mobil masuk desa, dan diparkir berjejer disetiap rumah didesa. Entah itu fenomena apa, yang jelas, secara umum menunjukkan keberhasilan anak yang merantau pulang membawa hasil dan harta yang banyak.
Tapi tidak semua yang kita lihat itu benar-benar murni dan apa adanya. Salah satu contoh adalah si Jolodong. Dia adalah seorang anak mbah Sumo yang merantau ke Bandung. Disana entah kerja apa, yang jelas, mbah Sumo sering bercerita anaknya sudah sukses. Memang tidak banyak yang diterima dari mbah Sumo tiap bulannya dari anaknya. Hnaya kadang kala di transfer uang 200 ribu atau paket jarik dan kebutuhan seharihari. Pun, kadang di Desa juga banyak, dan harganya juga murah-murah. Jolodong sudah 10 tahun merantau, dan punya keluarga di Bandung. Setiap tahun dia pulang, dan membawa hasil yang didapat dari merantaunya. Tahun ini dia membwa sebuah mobil baru Kijang Inova. Entah siapa yang sangka, jika hanya 10 tahun dan sudah punya keluarga dia mampu untuk beli kijang inova itu. dan tidak ada yang tahu apa pekerjaan dia di Bandung. Dan saya akan terasa di klakson beberapa mobil mewah dari belakang. Batin saya ini mobil GeJe banget, ngebel sani-sini gak jelas, udah tahu jalan di kampung pada rusak pingin menang ssendiri. Jalan di kampung emang gampang rusak, karena Pemerintah pada gak denger dan gak liat, anggaran perbaikan hanya manis muka tanpa aplikasi nyata. cuma plang kuning ddengan tulisan “Hati-hati Jalan Rusak, tahun depan akan diperbaiki”. wah seperti tulisan di kantin dulu “Hari ini bayar, besok gratis” ketika besok aku datang, masih ada tulisan itu lagi, trus besok tu kapan???
Kembali ke TKP.
Beberapa hari kemudian beberapa orang termasuk Jolodong sudah pulang ke Kotanya, kembali kerja, cuti telah habis. Di sela kegembiraan lebaran celetuk sebuah kata yang terlontar dari Kang Paiman, yang juga anak orang rantau di Bandung. Dia berkata, bahwa kebanyakan orang yang mudik menyewa kendaraan pribadi seperti Avanza, Inova, xernia atau mini MPV lain, guna transportasi yang dianggal nyaman dan bergensi. Bergengsi??? wew… ternya memang bergengsi, di abisa berkata, ini adalah kendaraan hasil kerja keras saya di Kota. dan keluarga bangga, menempatkan dia pada strata atas orang yang sukses di Kota. Tak ubahnya motor kredit, siapa sangak sang polisi yang keren, sang guru, sang tentara yang gagah bisa beli Yamaha Vision walau kredit. Ketika lewat jalan juga tidak ada tulisan kredit, ketika ber gagah ria tidak ada gambar hutang. yang jelas hanya BPKB dan STNK yang berkata jujur. Mobil Inova Jolodong atau beberapa puluh mobil mewah yang masuk Desa mungkin saja adalah sewaan dari rental mobil. Jadi tidka perlu terperanga pada orang rantua yang pulang kampun gdengan mobil sementereng apapun. Toh mereka hanya sewa. kitapun bisa.

Categories: lebaran, religius
  1. pemudapemikir
    September 15, 2010 at 4:01 am

    betul😀 namanya juga manusia pak… apapun bisa terjadi. hanya untuk kata gensi dan harga diri.

  2. September 15, 2010 at 3:37 am

    fenomena yang belakangan sering muncul setiap tahunnya, semoga kita tetap merasa rendah diri dan senantiasa bisa kembali dengan hati yang baru di hari raya nan fitri . . . .

  1. No trackbacks yet.
Comments are closed.